Menjawab tudingan bahwa industri sawit mempekerjakan anak di bawah umur, sejak 2021 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkenalkan gerakan ?Sawit Indonesia Ramah Anak? (SIRA). Melalui inisiatif ini, GAPKI berkomitmen memastikan bahwa industri sawit di Indonesia bebas dari pekerja anak dan menghormati hak-hak anak.
?Gerakan SIRA bertujuan tidak hanya memastikan bebas dari pekerja anak, tetapi juga menyediakan fasilitas untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak anak,? jelas Sumarjono Saragih, Ketua GAPKI Bidang Pengembangan SDM.
Sejumlah praktik dari gerakan SIRA menjadi bukti komitmen ini, seperti pengadaan tempat pengasuhan anak, pendirian paguyuban anak, fasilitas bus sekolah, posyandu, pusat kesehatan, hingga pembangunan sekolah di perkebunan sawit. Langkah-langkah ini diakui menjadi modal penting di desa-desa dalam menyiapkan generasi emas di masa mendatang.
Untuk memperluas kesadaran akan gerakan SIRA, GAPKI kembali menggelar Workshop dan Seminar ?Sawit Indonesia Ramah Anak? di Palangka Raya pada 22-25 Oktober 2024. Acara ini membedah Buku Panduan SIRA yang diterbitkan pada tahun 2022 oleh GAPKI bersama Pemerintah dan organisasi perlindungan anak.
Sebelumnya, kegiatan serupa sukses digelar di Papua pada Juni 2024 dengan tema ?Papua Emas 2045 Bersama Sawit? dan direncanakan untuk diselenggarakan di provinsi lainnya secara berkala, mencakup 15 provinsi cabang GAPKI.
?Industri sawit Indonesia tidak hanya patuh pada aturan hukum, tetapi juga berperan lebih jauh dengan kontribusi nyata untuk agenda nasional Indonesia Emas 2045. Melalui SIRA, sawit Indonesia diharapkan menjadi landasan generasi emas dan mewujudkan Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial,? tambah Sumarjono.
Sebagai catatan, industri sawit Indonesia tepat berusia 113 tahun pada 18 November mendatang, dihitung sejak penanaman komersial pertama oleh pengusaha Eropa pada tahun 1911 di Pulau Raja Asahan, Sumatera Utara dan Sei Liput, Aceh. Tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Sawit Nasional. Dengan pangsa pasar global sebesar 55%, industri ini telah menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, menghasilkan devisa hingga Rp600 triliun (data 2022), dan melibatkan sekitar 16 juta pekerja di 160 kabupaten di ribuan desa di seluruh Indonesia